Jumat, 05 Juni 2009

Berita Terkini

Skenario Perang Ambalat
Friday, 05 June 2009
Ketegangan yang muncul antara Indonesia dan Malaysia tentang Blok Ambalat bisa bereskalasi menjadi konflik bersenjata antara kedua negara.

Prediksi ini konsisten dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Wallerstein, Heraclides, dan Van Evera,yang melihat bahwa 77% sengketa teritorial gagal diselesaikan secara damai. Lima skenario dapat dibuat untuk memprediksikan perang Ambalat. Skenario-skenario tersebut harus ditelaah secara mendalam untuk mencegah terjadi perang yang tidak dinginkan.

Skenario pertama sering disebut sebagai “perang kecelakaan” (inadvertent war). Dalam skenario ini, baik Indonesia maupun Malaysia sebetulnya sama-sama tidak menghendaki perang terjadi. Namun, persinggungan keras antardua angkatan laut di Blok Ambalat meningkatkan eskalasi konflik dari krisis menjadi perang terbatas antardua negara. Skenario kedua adalah skenario substitusi perang kekuatan besar (proxy war).

Skenario ini terjadi saat perusahaan-perusahaan minyak multinasional menciptakan beragam rekayasa ketegangan baru yang memprovokasi Indonesia dan Malaysia untuk menyelesaikan sengketa dengan menggelar kekuatan bersenjata. Skenario ini bisa terjadi terutama karena perusahaan- perusahaan minyak multinasional tidak akan memiliki kesabaran untuk menunggu kedua negara menuntaskan perundingan penentuan koordinat batas wilayah yang bisa berlangsung puluhan tahun.

Jika skenario ini terjadi, sejarah persaingan perang kolonialisme yang terjadi antara perusahaan dagang Inggris dan Belanda akan kembali menyulut perang antarnegara di Asia Tenggara. Skenario ketiga terkait dilema keamanan.Di awal 1980-an Robert Jervis telah memperingatkan kita tentang kemungkinan munculnya perang antarnegara yang disebabkan oleh pengembangan persenjataan (arms build-up) yang tidak terkendali.

Dalam skenario ini, dilema keamanan muncul saat keinginan Malaysia untuk mengamankan perairan timurnya dengan cara meningkatkan kekuatan maritim ditanggapi Indonesia sebagai gelar provokatif yang dapat dikategorikan sebagai ancaman. Dilema keamanan ini akan menyulut perlombaan senjata antara Indonesia dan Malaysia.

Kedua negara akan berlombalomba meningkatkan gelar kekuatan maritim di Blok Ambalat yang menyebabkan semakin seringnya persinggungan kapalkapal perang di wilayah yang disengketakan. Skenario keempat adalah perang sumber daya (resource war). Michael T Klare telah memprediksikan bahwa perang abad XXI akan lebih didominasi oleh perebutan sumber daya.

Cadangan minyak yang diperkirakan ada dalam jumlah melimpah di Blok Ambalat akan memunculkan kalkulasi ekonomi perang yang melihat bahwa keuntungan yang didapat dari perang Ambalat akan dapat menutupi biaya operasional gelar perang terbatas (limited war) antara Indonesia dan Malaysia.

Skenario kelima terkait politik domestik.Perang Ambalat bisa direkayasa untuk menggalang dukungan publik terhadap pemimpin politik.Perang ini sering disebut sebagai “perang peralihan”(diversionary war) yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah domestik.

Perang peralihan ini biasanya dimulai dengan radikalisasi kebijakan politik untuk menyulut rasa nasionalisme dan patriotisme rakyat. Radikalisasi inilah yang akan menutup pilihan-pilihan rasional untuk menyelesaikan sengketa Ambalat secara damai.

*** Kita harus berusaha sekeras mungkin untuk mencegah terjadinya lima skenario perang Ambalat. Ada beberapa solusi praktis yang bisa ditawarkan untuk menciptakan perdamaian Ambalat. Pertama, ketegangan antara patroli maritim Indonesia dan Malaysia harus diturunkan dengan cara memerintahkan angkatan laut dan polisi maritim kedua negara untuk tidak melakukan manuver- manuver provokatif di Blok Ambalat.

Jika dipandang perlu, Indonesia dan Malaysia juga dapat menggagas koordinasi patroli maritim di wilayah tersebut.Koordinasi yang sudah dilakukan dengan baik untuk mengamankan Selat Malaka ini akan meningkatkan kualitas diplomasi pertahanan antardua negara. Kedua,tunda seluruh negosiasi eksplorasi sumber daya alam yang mungkin ada di Blok Ambalat.

Negosiasi yang dilakukan dengan perusahaan multinasional dapat dipandang sebagai usaha Indonesia dan/atau Malaysia untuk memperoleh pengakuan internasional atas kedaulatan teritorialnya di wilayah tersebut. Untuk mencegah proxy war,selama belum ada kesepakatan batas wilayah yang mengikat, kedua negara sebaiknya tidak melibatkan pihak ketiga masuk di Blok Ambalat.

Ketiga, dilema keamanan bisa dihindari dengan tetap melakukan transparansi pertahanan untuk meningkatkan rasa saling percaya (confidence building measure) antara Indonesia dan Malaysia. Transparansi ini harus disertai kesadaran untuk menjelaskan maksud gelar militer di Blok Ambalat, terutama jika gelar tersebut bukanlah gelar statis (deployment) namun sudah mengarah ke gelar penindakan (employment).

Transparansi ini diharapkan dapat mencegah munculnya lingkaran setan mematikan yang berawal dari kesalahan interpretasi tentang maksud modernisasi pertahanan negara lain. Terakhir, alternatif-alternatif solusi damai untuk menyelesaikan sengketa Ambalat harus terus dieksplorasi.

Indonesia dan Malaysia harus tetap berupaya menginisiasi solusi nonperang seperti diplomasi pertahanan, mekanisme pengelolaan krisis, resolusi konflik, atau perundingan bilateral. Perang Ambalat harus menjadi suatu solusi terakhir yang terpaksa dipilih saat seluruh alternatif solusi damai telah dieksplorasi.(*)

Andi Widjajanto
Dosen FISIP
Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar